PNS Adalah Panggilan Bangsa

Exif_JPEG_420

BALONG – Menjadi PNS memang harus siap ditempatkan di mana saja, sebab PNS adalah sebuah pengabdian kepada bangsa. Itulah ungkapan Hartono yang saat ini menjabat sebagai Camat Kecamatan Balong.

“Dengan niat mengabdi pada bangsa, dalam kerja dengan kondisi apapun pasti kita siap,”terang Hartoyo

Karena kalau hati kita sudah  tertanam rasa untuk mengabdi pada bangsa bisa dipastikan kita akan terasa mudah dalam menjalani pekerjaan tersebut.

“Kalau kita bekerja hanya karena uang, yang terpikir bagaimana kita mendapat uang. Sedangkan ada tugas yang paling besar dibalik pekerjaan sebagai PNS, yaitu sebuah wujud pengabdian terhadap bangsa dan negara ini,”terangnya.

Karena pada posisi apapun, dan jabatan apa saja, PNS itu bekerja untuk bangsa dan Negara. Dan itu yang kami jalani. Maka, Hartoyo yang memulai kariernya sebagai PNS, sejaka 1985 ini terasa enjoy saja dalam bekerja. Karena dirinya merasa kerja sebagai PNS adalah sebuah pengadian dan panggilan bangsa terhadapnya.

Maka pada usianya yang ke 54 ini, dirinya diberi tugas oleh negara untuk mengemban amanat sebagai Camat. Sebagai camat pihaknya harus bisa menjadi ujung tombak kepemimpinan di Balong. Kemajuan Balong pada tiap tiap Desa adalah tugas yang tidak ringan.

Dirinya selaku camat selalu mengajak kepala Desa untuk berkoordinasi dengan kecamatan. Dengan demikian permasalahan apa saja akan bisa teratasi dengan mudah.

Sekecil apapun masalah, pada kalau tidak teratasi akan membesar. Dan kalau masalah itu ada pada pemerintahan tentu akan menjadi polemik bagi kehidupan bermasyarakat dn bernegara.

Maka dia, selalu berharap pada jajaran Kepala Desa yang dipimpinya, agar semaksimal mungkin mengatasi permasalahan yang ada.

“Dengan begitu kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan menjadi nyaman,” terang camat yang juga penghobi pusaka ini. (kominfo/Jgo)

Sumber : http://ponorogo.go.id/camat-balong-pns-adalah-panggilan-bangsa/

“Gethuk” yang selalu ada di balong

Gethuk2

Gethuk adalah makanan ringan yang terbuat dengan bahan utama ketela pohon atau singkong. Getuk merupakan makanan khas yang mudah ditemukan di wilayah Kecamatan Balong, terutama pada hari pasaran Pon (pasar Ngumpul) dan Pahing (Pasar Balong).

Gethuk

Pembuatan getuk dimulai dari singkong di kupas kemudian kukus atau perebusan, setelah matang kemudian ditumbuk atau dihaluskan dengan cara digiling lalu diberi pemanis gula dan pewarna makanan. Untuk penghidangan biasanya ditaburi dengan parutan buah kelapa.

Getuk dikenal ada dua macam,

  1. Getuk, pada saat singkong yang sudah masak pada waktu suhu masih panas ditaburi potongan-potongan kecil gula jawa sehingga berwarna coklat tidak merata tumbukan getuk ini bentuknya kasar.
  2. Getuk lindri, adalah dengan cara singkong masak digiling halus dengan gula pasir, dibubuhi pewarna makanan dan vanili dan setelah itu dicetak kecil-kecil memanjang dan dirapatkan memanjang ini serupa dengan mie hingga berbentuk memajang dengan ketebalan sekitar 2cm lebar 4cm, setelah itu dipotong-potong berbentuk panjang sekitar 5cm dan lebar 4cm

TUMPENG/BUCENG…………. Tradisi Balong Budaya Jawa/Indonesia

Tumpeng

Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, “Tumpeng” merupakan akronim dalam bahasa Jawa : yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya “Buceng”, dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra’ ayat 80: “Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan”. Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.

Tumpeng2

Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.

Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan

Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai ‘tumpengan’. Di Yogyakarta misalnya, berkembang tradisi ‘tumpengan’ pada malam sebelum tanggal 17 Agustus, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, untuk mendoakan keselamatan negara.

 

Gelegar Reyog di Bumi Ponorogo

IMG_1024 IMG_1106

Merak ku terbang…. Dadak ku Iker……….

Merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian menyambut peringatah Hari Jadi kabupaten ponorogo ke 519…, salah satu diantaranya adalah pegelaran ratusan unit reyog yang melakukan atraksi di Alon-alon Ponorogo.

Dalam perayaannya gelar Dadak Merak ini melibatkan seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Ponorogo untuk menari bersama-sama dengan di iringi oleh gamelan merdu ala Ponorogo.

IMG_1009

Pembarong dari Kecamatan Balong…..Santai karena capek…

TABUR BUNGA DI PATIRTAN BEJI KARANGPATIHAN

IMG_1493

Camat Balong, Drs. JOKO WASKITO, M. Si. melakukan tabur bunga di Beji Karangpatihan

Tabur bunga merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh jajaran Muspika Kecamatan Balong dalam rangkaian kegiatan Kirap Lintasan Sejarah Babad Balong, yang dilakukan dalam rangka memperingati HUT RI ke 70 dan Peringatan Hari Jadi Ponorogo ke 519.  Dalam pelasanaannya Muspika Kecamatan Balong melakukan ritual tabur bunga di “Patirtan Beji Karangpatihan”

IMG_1497

Kapolsek Balong turut serta melakukan tabur bunga di Beji Karangpatihan

Kirap Lintas sejarah……Balong pun bisa!!!!!!!

IMG_1562

Kirap lintas sejarah babad balong merupakan rangkaian peringatan hari jadi kabupaten ponorogo yang dilaksanakan bersamaan dengan rangakaian peringatan HUT RI ke 70.

kirap ini diawali dari balai Desa Ngendut Kecamtan Balong yang berakhir di Balai Kecamatan Balong. Dalam pelaksanaannya kirap ini melibatkan beberapa elemen masyarakat dan perangkat desa serta peran aktif pihak-pihak dinas, instansi dan lembaga yang ada di Kecamatan Balong.

IMG_1500

memperingati HUT di awali dengan kirap

IMG_1225dalam ranga memperingati HUT RI dan hari jadi Kabupaten Ponorogo, dilaksanakan berbagai macam rangkaian kegiatan untuk memeriahkan acara tesebut. hal ini dilakukan menjelang hari peringatan diantaranya kegiatan kirap yang diikuti oleh beberepa elemen masyarakat dan perangkat serta tidak ketinggalan siswa – siswi dari berbagai tingkat pendidikan.

IMG_1182Di tempat terpisah Sekretaris Kecamatan Balong Herry Tri Cahyono, S. Sos., selaku ketua umum kegiatan Peringatan HUT RI dan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo menyampaikan bahwasannya “rangkaian kegiatan ini untuk menumbuhkan minat masyarakat serta untuk menjalin hubungan yang sinergis antara masyarakat dengan dunia penddikan”. sehingga diharapkan ada kerja sama yang baik antara sekolah dan masyarakatIMG_0824

 

Angin Puting Beliung Melanda

Angin 1

Kejadian yang luar biasa terjadi di wilayah Kecamatan Balong……, hal ini terjadi pada musim hujan tahun lalu berupa angin puting beliuang yang melanada sebagian wilayah Kecamatan Balong diantaranya desa Bulan, Desa Ngendut, Desa Pandak, Desa Sumberejo dan Desa Karangpatihan.

dilaporkan bahwa dari kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, namun kerugian yang ditimbulkan mencapai ratusan juta rupiah berupa rumah roboh, ternak mati dan sarana prasarana desa yang rusak……

angin 2

menghadapi hal tersebut aparat bersama – sama dengan masyarakat bahu membahu untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat yang terkena musibah, dengan cara membersihkan puing-puing reruntuhan dan pohon-pohon yang tumbang

angin 3

BUPATI PONOROGO Tilik Desa ke Desa Ngraket

berita Ponorogo 1,2 Triltun bupati Ponorogo H Amin SGDalam rangka kegiatan pelaksanaan program pemerintah Kabupaten Ponorogo Bupati Ponorogo, H. Amin S.H., M. Si melakukan tilik desa ke Desa Nraket Kecamatan Balong.

Dalam ranka kegiatannya Bupati di dampingi oleh beberapa Kepala SKPD dari berbagai Dinas dan Instansi di Kabupaten Ponorogo.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 26 Nopember 2014 lalu……., dalam keterangannya Bupati menyampaikan beberapa pesan untuk kepala desa sekecamatan Balong untuk melakukan kegiatan Pemerintahan Desa dan Tertib Administrasi…………………..

KERJA BAKTI MASAL

kerjabakti11

SEKDA DAN KAPOLRES PONOROGO

AWASI LANGSUNG KERJA BAKTI MASSAL

 

Usai upacara Korpri 17 Februari 2014 para anggota Korpri (PNS), TNI dan Polri melaksanakan kerja bakti serentak membersihkan serakan / tumpukan pasir akibat letusan gunung Kelud hari Kamis, 13 Februsari 2014 kemarin diberbagai titik ruas jalan terutama di jalan- jalan protokol.

 

Kerja bakti yang dilaksanakan di seputaran aloon-aloon langsung diawasi oleh Sekdakab Ponorogo Dr.Drs.Agus Pramono MM, sedangkan di titik perempatan pasar Songgolangit dan sekitarnya dipimpin langsung oleh Kapolres Ponorogo AKBP Iwan Kurniawan. Menurut Kapolres kerja bakti ini bisa dilanjutkan besok pagi apabila hari ini belum bersih, ini pun menunggu instruksi Bupati, apabila Bupati masih menghendaki untuk diteruskan kita akan teruskan.

Sementara ini menurut survey di titik – titik tertentu masih banyak yang belum dibersihkan, pada saat kerja bakti di titik perempatan bundaran, pertigaan ngepos, perempatan pabrik es belum tersentuh sama sekali.(Panji)

 

Kulon Prapatan Balong Jl. Pemuda Nomor 4-F Telp. 0352-371266